Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2010

songa rafting

“Mantabs, Seru, Menakjubkan, Basah dan Memuaskan !” Itulah gambaran yang pas untuk menggambarkan bagaimana berarung jeram di sungai Pekalen Atas. Bagi para penggemar rafting barangkali lebih mengenal ber-arung jeram di sungai Pekalen Bawah daripada disini.

Sungai Pekalen Atas ini masih sama terletak di desa Ranu Gedang, kecamatan Tiris, kabupaten Probolinggi, propinsi Jawa Timur. Dinamakan desa Ranu Gedang, karena di desa ini banyak terdapat pohon pisang (dalam bahasa jawa pisang disebut Gedang). Pekalen Atas memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi untuk berarung jeram dibandingkan dengan Pekalen Bawah. Bersumber dari mata air Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan dengan lebar sungai rata-rata 5-20 meter dan kedalaman air kurang lebih 1-3 meter. Jarak pengarungan dari Start-Finish kurang lebih 12 kilometer yang ditempuh selama 3,5 jam. Jumlah jeram sekitar 50 buah.

Untuk menemukan lokasi basecamp dari Songa Rafting tidaklah begitu sulit karena dari jalan raya Probolinggo tinggal melihat papan petunjuk besar yang terletak di pinggir jalan. Dari jalan raya ini harus menempuh jarak sekitar 15 km untuk sampai ke basecamp. Perjalanan dari jalan raya Gending sampai ke basecamp Songa Rafting ini memakan waktu sekitar 20 menit.

Tiba di basecamp, peserta akan dipersilahkan dulu beristirahat sejenak sambil disuguhi minuman selamat datang atau Welcome Drinks. Diberi kesempatan juga untuk berganti pakaian dengan pakaian yang memang siap untuk basah karena pasti akan terciprat derasnya air sungai. Para penikmat wisata arung jeram dilengkapi pelindung keselamatan seperti helm dan jaket pelampung, serta dipandu oleh seorang guide yang telah terlatih dan berpengalaman. Perahu karet yang dipakai adalah jenis inflatable raft yang memang diperuntukkan untuk melewati jeram dengan aman karena berisi udara yang dapat meredam benturan antara badan perahu dengan bebatuan jeram.

Sebelum berangkat peserta akan diberi penjelasan singkat tentang cara berarung jeram. Disini peserta akan dikenalkan dengan beberapa istilah yang dipakai. Seperti “Maju” yang berarti mendayung maju, “Mundur” yang berarti mendayung mundur, “Stop” berarti berhenti mendayung, “Kiri Mundur” yang berarti pendayung kiri mendayung mundur dan pendayung kanan tetap mendayung maju, “Kanan Mundur” berarti pendayung kanan mendayung mundur dan pendayung kiri tetap mendayung maju, “Pindah Kiri/Kanan/Belakang” yang berarti peserta harus pindah duduk ke arah yang diperintahkan dan yang paling penting yaitu “Boom” yang berarti peserta harus duduk di lantai dalam perahu dan mengangkat dayungnya menghadap ke atas – ini dilakukan apabila melewati jeram yang sangat deras dengan dinding samping yang sangat sempit.

Untuk menuju ke lokasi, peserta akan dinaikkan mobil pickup terbuka. Dengan posisi berdiri dapat menampung sekitar 12 orang dan harus berpegengan erat di pegangan pinggir mobil karena jalan yang dilalui lumayan menanjak naik turun.

Start point dari arung jeram ini berada di dusun Angin-angin, Desa Ranu Gedang. Di tengah-tengah perjalanan akan berhenti di Rest Area Kedung Adem-adem dimana peserta sekali lagi akan dijamu dengan minuman Poka, STMJ dan sajian pisang goreng. Sungguh pas dinikmati di tengah dinginnya deburan air sungai Pekalen. Finish point-nya terletak di Dusun Gembleng, Desa Pesawahan.

 

Air Terjun Angin-Angin

Selama perjalanan peserta akan disuguhi indahnya 7 air terjun (diantaranya bernama Air Terjun Angin-angin), goa-goa kelelawar dan struktur batuan alami. Sungguh menakjubkan air terjun yang ada disana. Masih begitu alami dan airnya masih begitu jernih dan segar. apalagi oleh guide-nya, peserta sengaja diberhentikan tepat di bawah derasnya guyuran air terjun. Dijamin semua peserta akan langsung dapat merasakan segar dan derasnya guyuran air terjunnya. Goa kelelawarnya pun masih begitu lengkap dengan ratusan kelelawar yang sekali-kali memekik dan beterbangan kesana-kemari. Bau anyir dari kelelawar dan kotorannya begitu terasa ketika melewati sana. Terdapat pula tempat untuk terjun bebas dari ketinggian sekitar 5 meter. Tempat yang pas untuk melepaskan ketegangan.

Berarung jeram disini memang begitu menyenangkan. Dijamin rasa penat dan capek pun hilang begitu melihat keindahan dan merasakan serunya ber-arung jeram di sini. Suasananya pun begitu tenang sehingga membuat kita tidak habis-habis mengagumi ciptaan Tuhan ini. Jalur setelah Finish Point belum dibuka karena terlalu terjal, sempit dan berbatu sehingga tidak dapat dilalui oleh perahu. Tim Noars sudah mencoba jalur tersebut tapi masih dirasakan terlalu berbahaya untuk pemula jadi belum bisa dijadikan rute umum.

Untuk kembali ke basecamp peserta kembali harus menyusuri jalan setapak dan dinaikkan lagi ke mobil pickup. Sesampainya di basecamp peserta dapat segera membersihkan badan dan berganti pakaian. Sesudah itu semua, sajian yang menggoda selera siap menggoda. Tempe, tahu dan ikan penyet, urap-urap dan lodeh siap mengenyangkan perut para peserta yang energinya begitu terkuras setelah berarung jeram.

Dengan biaya Rp.219.ribu / orang dengan minimal peserta 5 orang, kita sudah bisa menikmati seru dan indahnya sungai Pekalen Atas. Sungguh alternatif yang bagus untuk menghabiskan liburan.

Penasaran khan?

Buruan hubungi bagian Reservasi :

CP : Mas Bagus

Hotline : (031) 71453654, 081357225708, 0817585446

Read Full Post »

Jika Anda penggemar olahraga air khususnya arung jeram dan menyukai tantangan, tak ada salahnya menyempatkan berkunjung ke salah satu daerah di jawa Timur, yaitu Probolinggo.

Di kota penghasil mangga ini, Anda dapat menjajal tingkat adrenalin Anda dengan berarung jeram di sungai Pekalen, yang terletak di Dusun Angin-angin, Desa Ranu Gedang dan berakhir di Dusun Gembleng, Desa Pesawahan atau Desa Condong, Kecamatan Gending.

Sungai pekalen yang bersumber dari mata air gunung Lamongan dan Argopuro di Jawa Timur ini menurut penduduk setempat memiliki cerita historis dimana Sang Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada pernah singgah di sungai tersebut.

Ada juga legenda yang menyebutkan bahwa sang Ratu Dewi Rengganis yang pernah membangun istana pernah singgah ke sungai ini sebelum melarikan diri ke gunung Argopuro.

Sampai sekarang penduduk sekitar masih meyakini adanya tempat pemandian sang dewi, di tempat tersebut. Konon ritual ini dilakukan setiap Jumat Legi pukul 24.00 malam.

Sungai pekalen merupakan sungai permanen, karena dapat diarungi meskipun pada musim kemarau dengan arus yang tidak terlalu deras. Lain halnya pada bulan Januari hingga April dengan debit air yang tinggi arus air menjadi lebih deras karena musim penghujan.

Sungai ini dikategorikan memiliki tingkat kesulitan (grade) II sampai dengan III +. Atau setingkat diatas Sungai Ayung (Bali) dan Sungai Saddang (Sulawesi Selatan). Bagi anda yang akrab dengan dunia arus liar, dua sungai ini tentunya sudah tak asing lagi.

Tingkat kesulitan ini diperparah dengan adanya air terjun di beberapa lokasi. Tantangan lainnya adalah pengunjung harus turun ke sungai dengan menggunakan tali memakai teknik repeling bahkan mengharuskan ‘lining’ atau memindahkan perahu dengan teknik diulur memakai tali dan ‘portaging’ yaitu mengangkut perahu karena tidak mungkin diarungi.

Wilayah jalur rafting Sungai Pekalen dibagi menjadi dua yaitu, pekalen atas dan pekalen bawah. Pekalen atas memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dan dikhususkan bagi mereka yang sudah berpengalaman atau professional.

Sedangkan pekalen bawah, dengan dua operator yaitu Regulo dan Songa,lebih ditujukan pada layanan wisata. Meskipun begitu, jalur pekalen bawah tetaplah menantang.

Terdapat 32 jeram yang akan dilalui sepanjang jalur peraftingan. Masing-masing jeram punya nama sendiri. Pemberian nama-nama jeram tersebut tergolong unik, yaitu berdasarkan peristiwa yang terjadi ketika melakukan pengarungan.

Misalnya, sebuah jeram bernama Jeram Indosat. Nama tersebut diberikan karena di jeram tersebut seorang petinggi Indosat terjatuh kedalam air.

Tantangan berupa puluhan jeram-jeram sungai dan juga pemandangan alami yang khas dengan nuansa pedesaan akan memnberikan sebuah pengalaman tak terlupakan bagi para pengunjungnya.

Wisata arung jeram Sungai Pekalen menempuh rute sepanjang sembilan kilometer, berangkat dari Desa Pesawahan di Kecamatan Tiris dan finish di Desa Condong, Kecamatan Gending. Jarak sembilan km itu ditempuh dengan perahu karet selama tiga jam.

Konon juga lokasi arung jeram di alur sungai Pekalen, merupakan alur terbaik setelah sungai Citarik di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Kondisi dan medan kedua sungai ini hampir sama, bedanya arung jeram di Sungai Citarik lebih dulu dikenal untuk berwisata serta terdapat beberapa operator yang melayani wisatawan.

Sumber : kapanlagi.com

Read Full Post »

RAFTING (White Water Rafting)

Berikut ini kami sampaikan info tentang Rafting dari wikipedia:

Rafting or white water rafting is a challenging recreational activity using an inflatable raft to navigate a river or other bodies of water. This is usually done on white water or different degrees of rough water, in order to thrill and excite the raft passengers. The development of this activity as a leisure sport has become popular since the mid-1970s.

White Water Rafting

The modern raft is an inflatable boat, consisting of very durable, multi-layered rubberized or vinyl fabrics with several independent air chambers. The length varies between 3.5 m (11 ft) and 6 m (20 ft), the width between 1.8 m (6 ft) and 2.5 m (8 ft). The exception to this size rule is usually the packraft, which is designed as a portable single-person raft and may be as small as 1.5 metres (4.9 ft) long and weigh as little as 4 pounds (1.8 kg).

Rafts come in a few different forms. In Europe, the most common is the symmetrical raft steered with a paddle at the stern. Other types are the asymmetrical, rudder-controlled raft and the symmetrical raft with central helm (oars). Rafts are usually propelled with ordinary paddles and typically hold 4 to 12 persons. In Russia, rafts are often hand made and are often a catamaran style with two inflatable tubes attached to a frame. Pairs of paddlers navigate on these rafts. Catamaran style rafts have become popular in the western United States as well, but are typically rowed instead of paddled.

Classes of White Water

International Scale of River Difficulty

  • Grade 1: Very small rough areas, might require slight maneuvering. (Skill Level: Very Basic)
  • Grade 2: Some rough water, maybe some rocks, might require some maneuvering. (Skill Level: Basic Paddling Skill)
  • Grade 3: Whitewater, small waves, maybe a small drop, but no considerable danger. May require significant maneuvering.(Skill Level: Experienced paddling skills)
  • Grade 4: Whitewater, medium waves, maybe rocks, maybe a considerable drop, sharp maneuvers may be needed. (Skill Level: Whitewater Experience)
  • Grade 5: Whitewater, large waves, possibility of large rocks and hazards, possibility of a large drop, requires precise maneuvering (Skill Level: Advanced Whitewater Experience)
  • Grade 6: Class 6 rapids are considered to be so dangerous as to be effectively unnavigable on a reliably safe basis. Rafters can expect to encounter substantial whitewater, huge waves, huge rocks and hazards, and/or substantial drops that will impart severe impacts beyond the structural capacities and impact ratings of almost all rafting equipment. Traversing a Class 6 rapid has a dramatically increased likelihood of ending in serious injury or death compared to lesser classes. (Skill Level: Successful completion of a Class 6 rapid without serious injury or death is widely considered to be a matter of great luck or extreme skill)

Techniques

Rafts in white water are very different vehicles than canoes or kayaks and have their own specific techniques to maneuver through whitewater obstacles.

  • Punching – Rafts carry great momentum, and on rivers hydraulics that are dodged by canoes and kayaks are often punched by rafts. This involves the rafting crew paddling the raft to give it enough speed to push through the hydraulic without getting stopped.
  • High Siding – If a raft is caught in a hydraulic it will often quickly go sideways. In order to stop the raft flipping on its inside edge, the rafters can climb to the side of the raft furthest downstream, which will also be the side of the raft highest in the air leading to its name. In this position the rafters may be able to use the draw stroke to pull the raft out of the hydraulic.

Capsizing

  • Dump Truck – Rafts are inherently stable crafts because of their size and often they will shed gear and passengers before they actually capsize. In the industry if a raft dumps some or all of its passengers but remains upright, it is said to have dump trucked.
  • Left Over Right or Right over Left – Rafts almost always flip side over side. If the left tube rises over the right tube, the raft is said to have flipped left over right and vice versa.
  • Taco – If a raft is soft, or under inflated, it may taco, or reverse taco. Rafts are said to have tacoed if the middle of the raft buckles and the front of the raft touches or nearly touches the back of the raft. This often is a result of surfing in a hydraulic. A reverse taco is when the nose, or stern of the raft is pulled down under water and buckles to touch the middle or back, or nose of the raft.
  • End over End – Occasionally rafts will flip end over end. This is usually after the raft has dump trucked to lighten the load, allowing the water to overcome the weight of the boat flipping it vertically before it lands upside down. Rafts will usually taco and turn sideways, making an end-over-end flip a very rare flip in most rafts.

Re-righting

  • Flip Line – The flip line technique is the most used in commercial rafting where flips are common. The guide will take a loop of webbing that has a carabiner on it and attach it to the perimeter line on the raft, Standing on top of the upside down raft they will hold the line and lean to the opposite side from where the flip line is attached, re-righting the raft.
  • Knee Flipping – Capsized rafts that are small enough with little or no gear attached can be knee flipped. This involves the rafter holding the webbing on the underside of the raft, and pushing their knees into the outer tube, and then lifting their body out of the water, leaning back to overturn the raft.
  • T rescue – Much like the kayak technique some rafts are large enough that they need to be overturned with the assistance of another raft or land. Positioning the upturned raft or land at the side of the raft the rafters can then re-right the raft by lifting up on the perimeter line.

Tricks

  • Rock Splats If the rafters load the back of the raft, they can paddle the raft into a rock on the river, having it hit the bottom of the boat instead of the nose; if done correctly this can raise the raft up vertically on its stern.
  • Surfing Commercial Rafts often use waves on rivers to surf.
  • Nose Dunks Large rafts can enter hydraulics called holes from downstream and submerge their nose, or reverse taco. This can be a safe way to get rafters wet in a hydraulic.

Safety

Packrafting in Alaska, USA

White water rafting can be a dangerous sport, especially if basic safety precautions are not observed. Both commercial and private trips have seen their share of injuries and fatalities, though private travel has typically been associated with greater risk[citation needed]. Depending on the area, legislated safety measures may exist for rafting operators. These range from certification of outfitters, rafts, and raft leaders, to more stringent regulations about equipment and procedures. It is generally advisable to discuss safety measures with a rafting operator before signing on for a trip. The equipment used and the qualifications of the company and raft guides are essential information to be considered.

Like most outdoor sports, rafting in general has become safer over the years. Expertise in the sport has increased, and equipment has become more specialized and increased in quality. As a result the difficulty rating of most river runs has changed. A classic example would be the Colorado River in the Grand Canyon or Jalcomulco River in Mexico, which has swallowed whole expeditions in the past, leaving only fragments of boats. In contrast, it is now run safely by commercial outfitters hundreds of times each year with relatively untrained passengers.

Risks in white water rafting stem from both environmental dangers and from improper behavior. Certain features on rivers are inherently unsafe and have remained consistently so despite the passage of time. These would include “keeper hydraulics”, “strainers” (e.g. fallen trees), dams (especially low-head dams, which tend to produce river-wide keeper hydraulics), undercut rocks, and of course dangerously high waterfalls. Rafting with experienced guides is the safest way to avoid such features. Even in safe areas, however, moving water can always present risks—such as when a swimmer attempts to stand up on a rocky riverbed in strong current, risking foot entrapment. Irresponsible behavior related to rafting while intoxicated has also contributed to many accidents.

One of the most simple ways to avoid injury while out of a raft, is to swim to an Eddy (a calm spot behind a rock in the water which the current disperses around) to avoid being taken downstream.

To combat the illusion that rafting is akin to an amusement park ride, and to underscore the personal responsibility each rafter faces on a trip, rafting outfitters generally require customers to sign waiver forms indicating understanding and acceptance of potential serious risks. Rafting trips often begin with safety presentations to educate customers about problems that may arise.

White water rafting is often played for the adrenaline rush and this often becomes a problem for people and their own safety. White water rafting accidents have occurred but are not common.

Due to this the overall risk level on a rafting trip with experienced guides using proper precautions is low.[citation needed] Thousands of people safely enjoy raft trips every year.

Environmental Issues

Rafting in Montenegro

Like all wilderness activities, rafting must balance its use of nature with the conservation of rivers as a natural resource and habitat. Because of these issues, some rivers now have regulations restricting the annual and daily operating times or numbers of rafters.

Conflicts have arisen when rafting operators, often in co-operation with municipalities and tourism associations, alter the riverbed by dredging and/or blasting in order to eliminate safety hazards or create more interesting whitewater features in the river. Environmentalists argue that this may have negative impacts to riparian and aquatic ecosystems, while proponents claim these measures are usually only temporary, since a riverbed is naturally subject to permanent changes during large floods and other events.

Rafting contributes to the economy of many regions which in turn may contribute to the protection of rivers from hydroelectric power generation, diversion for irrigation, and other development. Additionally, white water rafting trips can promote environmentalism. By experiencing firsthand the beauty of a river, individuals who would otherwise be indifferent to environmental issues may gain a strong desire to protect and preserve that area because of their positive outdoor experience.

Read Full Post »

mantabs

Di Jawa timur ada tempat rafting yang sangat indah, airnya bening, dan alam nya sangat eksotis. Namanya sungai pekalen. Seorang skipper instruktur rafting di sungai pekalen bertanya kepada kami seperahu “apa yang paling berbahaya dalam rafting? Kami semua termenung diam, dengan memasang muka binggung. Sambil berusaha tebak menebak. Spontan kami menjawab “Bahaya nya kalau jatuh mas”, kalau tidak kompak , hmm kalau benggong”  dan ia pun geleng-gele … Read More

via SONGA RAFTING

Read Full Post »





Outbound Training
Melalui pelatihan ( outwardbound training / outbound training) ini, diharapkan lahir pribadi-pribadi baru yang penuh motivasi, berani, percaya diri (trust), berpikir kreatif, memiliki rasa kebersamaan (solidarity), tanggungjawab (responsibility), mampu bekerja sama ( kooperatif ) dan lain-lain.

Experiential Learning Training atau lebih dikenal dengan istilah outbound training, adalah sebuah kegiatan pelatihan sumber daya manusia yang dilakukan diluar ruangan dan berbasis alam bebas.

Bentuk kegiatannya berupa simulasi kehidupan melalui permainan-permainan (games) yang kreatif, rekreatif dan edukatif.

Adapun materi yang disampaikan adalah salah satunya Self Mastery dengan menggunakan pendekatan Andragogy, yakni menganggap orang dewasa adalah anak kecil yang berbadan besar.

Komposisi penyampaian materi adalah dengan cara :

  • Simulasi permainan di luar ruangan,
  • kuisioner
  • in class session.

Untuk keterangan lebih lanjut dan permintaan atas produk ini akan kami tindaklanjuti dengan proposal tersendiri.

Read Full Post »

Outing Plus Event( Family Gathering)merupakan sebuah kegiatan yang biasanya digunakan untuk mengisi acara dalam sebuah kegiatan kebersamaan untuk lebih mempererat kerjasama antar personal didalam suatu organisasi perusahaan/instansi, dengan menggunakan sebuah aktifitas permainan low impact yang bersifat menyenangkan (fun & refresh)dan dilakukan di luar ruangan maupun di dalam ruangan.

Dalam kegiatan tersebut akan dilakukan juga kegiatan debriefing untuk mengambil hikmah dari kegiatan yang telah dilaksanakan dengan tinjauan dari sisi ilmu manajemen. Biasanya hal ini dilakukan untuk mengingatkan kembali peserta akan pentingnya arti sebuah tim yang sinergis.

* Harga : Mulai Rp. 175.000,-/pax – Rp. 550.000,-/pax
* Minimal Peserta : 20-30 pax.
* Durasi : 3- 6 jam

Read Full Post »

Sungai Pekalen Atas ini masih sama terletak di desa Ranu Gedang, kecamatan Tiris, kabupaten Probolinggo, propinsi Jawa Timur. Dinamakan desa Ranu Gedang, karena di desa ini banyak terdapat pohon pisang (dalam bahasa jawa pisang disebut Gedang). Pekalen Atas memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi untuk berarung jeram dibandingkan dengan Pekalen Bawah. Bersumber dari mata air Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan dengan lebar sungai rata-rata 5-20 meter dan kedalaman air kurang lebih 1-3 meter.

Jarak pengarungan dari Start-Finish kurang lebih 12 kilometer yang ditempuh selama 3,5 jam. Jumlah jeram sekitar 50 buah seperti Welcome, Batu Jenggot, Pandawa, Rajawali, Xtravaganza, KPLA, Tripple Ace, The Fly Matador, Hiu, Cucak Rowo, Long Rapid, Good Bye. Ada pula Jeram Inul, disebut demikian karena untuk melewati jeram itu, setiap peserta harus “bergoyang bak Inul”. Tingkat kesulitan arung jeram disini yaitu grade II sampai III+.

Untuk menemukan lokasi basecamp dari Songa atau Noars tidaklah begitu sulit karena dari jalan raya Probolinggo tinggal melihat papan petunjuk besar yang terletak di pinggir jalan. Dari jalan raya ini harus menempuh jarak sekitar 15 km untuk sampai ke basecamp. Sayangnya kondisi jalan menuju kesana tidak begitu bagus, sehingga mau tidak mau memaksa para pengunjung terlebih dahulu harus berarung jeram melawati jalan akses yang berlubang-lubang. Perjalanan dari jalan raya sampai ke basecamp ini memakan waktu sekitar 1 jam.

Tiba di basecamp, peserta akan dipersilahkan dulu beristirahat sejenak sambil disuguhi makanan kecil berupa pisang rebus dan minuman yang dinamakan Poka, yang terbuat dari teh dicampur jahe, keningar dan kayu manis. Diberi kesempatan juga untuk berganti pakaian dengan pakaian yang memang siap untuk basah karena pasti akan terciprat derasnya air sungai. Para penikmat wisata arung jeram dilengkapi pelindung keselamatan seperti helm dan jaket pelampung, serta dipandu oleh seorang guide yang telah terlatih dan berpengalaman. Perahu karet yang dipakai adalah jenis inflatable raft yang memang diperuntukkan untuk melewati jeram dengan aman karena berisi udara yang dapat meredam benturan antara badan perahu dengan bebatuan jeram.

Sebelum berangkat peserta akan diberi penjelasan singkat tentang cara berarung jeram. Disini peserta akan dikenalkan dengan beberapa istilah yang dipakai. Seperti “Maju” yang berarti mendayung maju, “Mundur” yang berarti mendayung mundur, “Stop” berarti berhenti mendayung, “Kiri Mundur” yang berarti pendayung kiri mendayung mundur dan pendayung kanan tetap mendayung maju, “Kanan Mundur” berarti pendayung kanan mendayung mundur dan pendayung kiri tetap mendayung maju, “Pindah Kiri/Kanan/Belakang” yang berarti peserta harus pindah duduk ke arah yang diperintahkan dan yang paling penting yaitu “Boom” yang berarti peserta harus duduk di lantai dalam perahu dan mengangkat dayungnya menghadap ke atas – ini dilakukan apabila melewati jeram yang sangat deras dengan dinding samping yang sangat sempit.

Untuk menuju ke lokasi, peserta akan dinaikkan mobil pickup terbuka. Dengan posisi berdiri dapat menampung sekitar 12 orang dan harus berpegengan erat di pegangan pinggir mobil karena jalan yang dilalui lumayan menanjak naik turun. Sayangnya sesudah turun dari mobil, peserta masih harus menyusuri jalan setapak yang lumayan jauh dan curam, sehingga stamina banyak terkuras disini. Malahan dapat dikatakan capeknya disini bukan karena arung jeramnya tetapi karena jalannya ini. Mungkin ini yang perlu diperhatikan pihak operator.

Start point dari arung jeram ini berada di dusun Angin-angin, Desa Ranu Gedang. Di tengah-tengah perjalanan akan berhenti di Rest Area Kedung Adem-adem dimana peserta sekali lagi akan dijamu dengan minuman Poka, STMJ dan sajian pisang goreng. Sungguh pas dinikmati di tengah dinginnya deburan air sungai Pekalen. Finish point-nya terletak di Dusun Gembleng, Desa Pesawahan.

Selama perjalanan peserta akan disuguhi indahnya 7 air terjun (diantaranya bernama Air Terjun Angin-angin), goa-goa kelelawar dan struktur batuan alami. Sungguh menakjubkan air terjun yang ada disana. Masih begitu alami dan airnya masih begitu jernih dan segar. apalagi oleh guide-nya, peserta sengaja diberhentikan tepat di bawah derasnya guyuran air terjun. Dijamin semua peserta akan langsung dapat merasakan segar dan derasnya guyuran air terjunnya. Goa kelelawarnya pun masih begitu lengkap dengan ratusan kelelawar yang sekali-kali memekik dan beterbangan kesana-kemari. Bau anyir dari kelelawar dan kotorannya begitu terasa ketika melewati sana. Terdapat pula tempat untuk terjun bebas dari ketinggian sekitar 5 meter. Tempat yang pas untuk melepaskan ketegangan.

Berarung jeram disini memang begitu menyenangkan. Dijamin rasa penat dan capek pun hilang begitu melihat keindahan dan merasakan serunya ber-arung jeram di sini. Suasananya pun begitu tenang sehingga membuat kita tidak habis-habis mengagumi ciptaan Tuhan ini. Jalur setelah Finish Point belum dibuka karena terlalu terjal, sempit dan berbatu sehingga tidak dapat dilalui oleh perahu. Tim rafting kami sudah mencoba jalur tersebut tapi masih dirasakan terlalu berbahaya untuk pemula jadi belum bisa dijadikan rute umum.

Untuk kembali ke basecamp peserta kembali harus menyusuri jalan setapak dan dinaikkan lagi ke mobil pickup. Sesampainya di basecamp peserta dapat segera membersihkan badan dan berganti pakaian. Sesudah itu semua, sajian yang menggoda selera siap menggoda. Tempe, tahu dan ikan penyet, urap-urap dan lodeh siap mengenyangkan perut para peserta yang energinya begitu terkuras setelah berarung jeram.

Ingin Coba!!!!!

Silahkan hubungi kami…..
HOTLINE : (031) 7145 3654, 081 7585 446, 081 357 225 708
http://www.songarafting.wordpress.com

Read Full Post »

Older Posts »